Skip to content

“Indahnya” Korupsi

Juni 12, 2011

Dalam bulan Januari1970, organisasi mahasiswa melakukan aksi yang terbilang luar biasa sejak Indonesia merdeka. Mereka memprotes  korupsi yang sudah menjadi endemic di kalangan pemerintahan Indonesia saat itu. Akan tetapi Soeharto yang saat itu menjabat sebagai presiden menantang tuntutan masyarakat Indonesia tersebut dengan membentuk komisi IV, yang secara khusus meninjau dan memberikan soulsi akan masalah tersebut. Bahkan dalam pidatonya pada hari kemerdakaan Soeharto mengatakan, “Tidak perlu ada keragu-raguan lagi. Saya sendiri akan memimpin perjuangan melawan korupsi”. Namun amat disayangkan pada akhirnya perjuangan yang digagas sendirinyapun pada mencapai anti-klimaks, Soeharto dianggap telah melakukan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme diakhir kepemimpinanya.
Berselang 41 tahun kemudian, kiranya permasalahan ini menjadi semakin kompleks bahkan melibatkan aparatur penegak hukum itu sendiri. Terbukti berbagai dugaan yang terjadi seperti halnya kasus Jaksa Urip yang menerima uang suap dari Atalitha Suryani. Bahkan yang lebih parah adalah dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia saat ini hanya 5 Provinsi  yang kepala daerahnya yang bersih dan  tindak pernah terlibat dalam paraktek pidana korupsi. Sehingga ini mengindikasikan betapa permasalahan korupsi ini begitu kronis di Indonesia terutama dalam sektor pemerintah .
Lalu siapa sebetulnya yang diuntungkan dan dirugikan? Dan sejauh mana dampaknya terhadap rakyat. Tentu saja korupsi sangat menguntungkan koruptor itu sendiri, sedangkan rakyatlah yang pada akhirnya menjadi korban, karena koruptor itu sendiri yang mengambil hak rakyat. Nah inilah yang menyebabkan pada akhirnya krisis ekonomi, kemiskinan, pelayanan sektor publik yang tidak berjalan sesuai dengan aturan dan tindak kejahatan/kriminalitas semakin meningkat, maka baik langsung atau tidak para koruptor haruslah bertanggung jawab akan hal tersebut. Fakta mengungkapkan menurut Transparency International, adanya keterkaitan antara jumlah korupsi dan jumlah kejahatan. Ternyata korupsi meninkat,, angka kejahatan pula meningkat (Global Corruption Report, 2005). Sebaliknya ketika korupsi berhasil dikurangi, kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum bertambah Kepercayaan yang membaik dan dukunganmasyarakat membuat penegakan hokum menjadi efektif. Penegakan hukum yang efektif akan mengrangi jumlah kejahatan yang terjadi.
Berbicara factor apa yang menyebabkan korupsi di Indonesia bisa terjadi, sangat banyak variable yang diungkapkan oleh para ahli, baik itu secara historis, Kultural hingga permasalahan ekonomi Indonesia itu sendiri. Walaupun demikian analisa yang dikemukan oleh para ahli tersebut pada intinya bertemu pada satu titik persamaan bahwa, Korupsi yang sudah menjadi endemic dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari di dalam lingkup masyarakat Indonesia, telah menyebabkan masyarakat yang terbiasa korup, sehingga akan sulit membedakan mana tindakan korup dan mana yang bukan tindakan korup.
Lalu dalam hal pemberantasan korupsi ini maka perlulah kiranya kita mengkomparasikan tiga bentuk macam tindakan yang harus dilakukan secara bersama-sama dan disadari secara bersama pula,
Pertama, Pencegahan (antikorupsi/preventif). Sangat marak dibicarakan saat ini tentang urgensi pendidikan anti-korupsi untuk dimasukan ke dalam kurikulum persekolahan dan Perguruan tinggi. Tentu saja langkah ini harus sama-sama kita apresiasi dan kita wujudkan bersama-sama. Peserta didik ataupun mahasiswa merupakan stakeholder kepemimpinan bangsa esok hari, sehingga jelaslah kiranya tindakan-tindakan bersifat preventif semisal pendidikan anti-korupsi ini sesegera mungkin dimasukan ke dalam kurikulum persekolahan, sehingga bisa disadari sejak dini bahwa segala bentuk macam tindak pidana korupsi merupakan suatu hal yang keji dan tercela serta menimbulkan dampak yang sistemik.
Kedua, Penindakan (Penanggulangan/kontakorupsi/represif). Penindakan merpuakan suatu hal yang penting juga untuk dilakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Global Corruption Report pada tahun 2005 diatas, ketika penindakan korupsi bisa dilakukan secara tegas dan efektif oleh aparatur penegak, maka akan menimbulkan kepercayaan dari masyarakat terhadap aparatur penegak hukum dan hal tersebut berimplikasi kepada semakin efektifnya penegakan hukum yan akan mengakibatkan berkurang jumlah tindak pidana termasuk korupsi dalam hal ini. Indonesia secara historis telah melakukan peperangan terhadap korupsi dengan dibentukinya berbagai lembaga independen yang ditujukan untu memberantas korupsi hingga yang terakhir adalah KPK. Berbicara tentang penindakan kiranya kita perlu menengok dan mencontoh kepada ICAC, (Independent Commission Againtst Corruption) yang merupakan lembaga independen pemberantasa korupsi di Negara Hongkong yang merupakan badan anti korupsi yang paling berhasil dan kuat di dunia, didirikan pada tanggal 15 February 1974 oleh gubernur Hong Kong pada waktu itu, Sir Crawford Murray MacLehose. Sejak itu, korupsi di tubuh polisi turun hingga 70 persen. Dari 1.443 laporan pada 1974, menjadi 446 laporan pada 2007. Hongkong menjelma menjadi negara terbersih kedua di Asia berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (CPI). Dan mereka hanya memerlukan waktu 25 tahun untuk benar-benar bebas dari segala bentuk “hegemoni” korupsi yang “membabi buta”.
Dan yang Ketiga, adalah perna ikut serta masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat memiliki peranan penting dalam penindakan korupsi itu sendiri. Masyarakat tentu haruslah ikut serta secara aktif dalam pemberantasan korupsi. Bahkan baru-baru kemarin, KPK memberikan kemudahan pada masyarakat dengan cara untuk melaporkan tindak pidana korupsi yang ada disekitar lingkungannya melalui sms. Tentu fasilitas-fasilitas yang memudahkan semacam ini perlu untuk ditingkatkan, selainitupun jaminan keselamatan menjadi saksi haruslah diperjelas dan menjadi komitmen bersama-sama. Selain itupun seperti yang diungkapkan sebelumnya pentinglah kiranya elemen masyarakat bersama-sama untuk koperatif dan memiliki kepercayaan terhadap penegak hokum karena tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan dalam “penumpasan” korupsiadalah bermula dari kepercayaan, percaya bahwa kita bisa untuk bersama-sama “Membasmi Korupsi” Wallahu’alam bishawab

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: