Skip to content

Orde Lama, Orde Baru atau Reformasi?

September 20, 2011


Menarik ketika saya membaca buku “Indonesia Optimis” yang dikarang oleh Staf Khusus Kepresidenan, Deni Indrayana. Sebuah survey mengatakan bahwa, sebagian besar responden lebih merindukan masa Orde Baru dan menganggapnya sebagai salah satu fase terbaik sepanjang sejarah bangsa kita merdeka.
Tapi justru sebetulnya hegemoni Masa Orde Baru yang bersifat Otoriter saat itu justru lebih korup dibandingkan masa reformasi hanya saja pemimpin saat itu memang benar-benar mampu menutup segala kebebasan pers sebagai penyeimbang pemerintah saat itu sehingga banyak kasus yag seolah tertutupi, bahkan siapa yang berani berbicara secara hukum legalitas yag digunakan dalam suatu sistem negara yang otoriter mereka akan dijadikan Narapidana Politik. Reformasi memang belum usai. Karena tidak ada perbaikan yang pernah usai. Disetiap perbaikanpun tidak lepas dari kekurangan. Sehingga saya sepakat dengan pemikiran Deni Indrayana tersebut.
Ada 3 tuntutan mahasiswa ketika reformasi tahun 1998.
1. Penghilangan Dwi Fungsi ABRI.
2. Amandemen UUD 1945
3. Pemberantasa KKN.
Nampaknya 2 dari 3 tuntutan tersebut telah dijalankan. Tapi justru ada satu permasalahan yang seolah semakin hari semakin kronis bagi bangsa kita, yaitu KKN.
Percaya atau tidak, dimuat dalam harian kompas bahwa 28 dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia saat ini hampir semua Kepala Dareahnya pernah melakukan Korupsi. Ini tentu menjadi salah satu indikator bahwa betapa buruknya etika pemimpin kita saat ini. Namun hal yang paling utama yang perlu dibangun oleh kita, oleh para penerus bangsa kita adalah suatu keoptimismean bahwa kita akan benar-benar bisa memberangus Korupsi ini. Kalaulah dulu Taiwan benar-benar mampu membredel Korupsi, saatnya Indonesia mengatakan bahwa “Indonesia bersih dari Korupsi”.
Ini semua bukan hanya tentang penegakan hukum semata, tapi memerlukan juga penindakan-penindakan yang bersifat preventif. Seperti halnya, penanaman nilai-nilai agama, moral, serta tanggung jawab. Semua hal tersebut bisa menjadi salah satu agenda bagi semua elemen negeri ini termasuk pemimpin bangsa, Guru, Pemuka Agama, Mahasiswa serta segenap elemen yang harus sama-sama mebangun suatu pondasi yang mendasar.
Indonesia bukanlah bangsa yang rakus dahulu kala, Indonesia juga bukan Bangsa Korup dahulu kala, Tapi bukan berarti perubahan harus kembali ke Belakang.
tetap maju ke depan, lakukan perbaikan, INDONESIA PASTI BISA.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: