Skip to content

Urbanisasi: Penyebab Kemiskinan perkotaan

Januari 3, 2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kemiskinan merupakan suatu permasalahan yang cukup pelik bagi bangsa Indonesia selain daripada kasus korupsi yang semakin hari semakin marak di Indonesia. Angka pertambahan orang miskin di Indonesia sendiri dalam tiga tahun terakhir melonjak tajam. Berdasarkan data terakhir Asean Development Bank (ADB), orang miskin di Indonesia bertambah 2,7 juta orang. Data ADB menunjukkan tahun 2008 jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 40,4 juta orang. Sementara tahun 2010 jumlah orang miskin meningkat menjadi 43,1 juta orang atau naik 2,7 juta orang. Dalam mengukur angka kemiskinan ini, ADB menggunakan standar pendapatan per hari di bawah Rp7.800 atau selisih 10 persen dari standar kemiskinan yang ditetapkan pemerintah yakni Rp7.060 per hari.

Salahsatu diantara penyebabnya adalah diakibatkan oleh proses urbanisasi penduduk desa ke kota, terutama ke kota-kota besar di Indonesia. Permasalahannya muncul adalah ketika proses urbanisasi tersebut hanya bermodalkan pada “kenekatan” semata sehingga pada akhirnya yang terjadi adalah terbentuknya masyarakat miskin pinggiran kota yang datang ke kota tanpa memiliki pendidikan formal yang tiggi dan keterampilan di tengah- tengah persaingan masyarakat perkotaan yang begitu ketat.

Kemiskinan tersebut tentu memiliki dampak terutama terhadap keadaan psikologis mereka akan kesenjangan sosial yang terutama terjadi di kota-kota besar, sehingga tidak jarang banyak sekali kaum urban tersebut memutuskan diri untuk menjadi seorang gelandangan atau hingga tindakan-tindakan kriminal yang mungkin berawal dari kemsikinan tersebut.

Oleh karenanya kami mengambil tema besar ini sebagai bahan kajian kemiskinan dalam makalah kami ini untuk secara bersama-sama menganalisis serta memberikan solusi kongkrit, baik dari sudut pandang masyarakat maupun kebijakan dari pemerintah.

1.2  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kajian Kemiskinan dan Kriminalitas
  2. Mengetahui definisi dari Urbanisasi.
  3. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan proses urbanisasi.
  4. Menganalisis faktor-faktor masalah urbanisasi.
  5. Mengetahui akibat negative dari permasalahan urbanisasi tersebut.
  6. Memberikan solusi permasalahan urbanisasi.

1.3  Rumusan Permasalahan

Dari latar belakang serta tujuan ditas, maka kami merumuskan beberapa masalah,

  1. Apa faktor yang menyebabkan masyarakat desa berbondong berurbanisasi ke kota?
  2. Mengapa urbanisasi menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan di perkotaan?
  3. Bagaimana solusi pemecahan dari permasalahan urbanisasi tersebut?

1.4  Manfaat penulisan

Dari hasil makalah ini, kami berharap bisa menjadi sebuah analisis yang bisa membantu solusi dalam penanganan masalah yang terjadi terkait tentang kemiskinan yang diakibatkan oleh proses urbanisasi

1.5  Metode Penulisan

Metode yang kami gunakan dalam isi dari makalah ini menggunakan metode kepustakaan, yaitu dengan jalan mengumpulkan dan mempelajari buku-buku dengan tujuan untuk mengambil dan mendapatkan bahan-bahan ataupun sumber internet yang penulis menukilnya kedalam makalah ini yang ada hubungannya dengan Pembangunan Sumber daya Manusia.

1.6  Sistematika Penulisan

Dalam rangka mempermudah memahami penulisan makalah ini, maka kami menyusun sistematika sebagai berikut :

BAB I             : Membahas mengenai Pendahuluan yang diantaranya berupa Latar Belakang Masalah, Tujuan Makalah, Manfaat, Metode Penelitian dan sistematika penulisan.

BAB III          : Membahas tentang pembahasan, Definis Urbanisasi, Korelasi urbanisasi dan Kemiskinan, Pembangunan Pedesaan, Operasi yusti bukan satu-satunya solusi dan Sinergitas anatara Pemerintah Kota, Daerah dan pusat

BAB III          : Merupakan penutup dari makalah ini, yang berisiskan kesimpulan serta Daftar Pustaka.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Definisi Urbanisasi

Urbanisasi menurut Michael S. Bassis, dkk adalah “an increase in the persentage of a population in urban settlements and a resulting extension of the influence of urban culture and lifestyles” (suatu peningkatan persentase populasi di pemukiman perkotaan dan mengakibatkan penambahan yang mempengaruhi kebudayaan kota dan gaya hidup).

Dalam buku Pengantar Sosiologi Kota yaitu Kota Didunia Ketiga yang dikarang oleh Dr. Nas, P.J.M.. Pada pengertian pertama diutarakan bahwa urbanisasi merupakan suatu proses pembentukan kota, suatu proses yang digerakkan oleh perubahan struktural dalam masyarakat sehingga daerah-daerah yang dulu merupakan daerah pedesaan dengan struktur mata pencaharian yang agraris maupun sifat kehidupan masyarakatnya lambat laun atau melalui proses yang mendadak memperoleh sifat kehidupan kota. Pengertian kedua dari urbanisasi adalah, bahwa urbanisasi menyangkut adanya gejala perluasan pengaruh kota ke pedesaan yang dilihat dari sudut morfologi, ekonomi, sosial dan psikologi.

Sehingga secara garis besar pengertian dari Urbanisasi adalah proses peningkatan angka penduduk perkotaan yang disebabkan oleh faktor alamiah seperti halnya kelahiran maupun perpindahan dari desa ke kota yang diakibatkan karena banyaknya daya tarik kota seperti halnya kesempatan kerja dan sebagainya.

Dalam kasus ini kami memfokuskan diri kepada pembahasan terkait urbanisasi yang diakibatkan oleh proses perpindahan penduduk dari desa ke kota. Dalam buku Kota Indonesia Masa Depan Masalah dan Prospek yang dikarang oleh B.N Marbun Secara terperinci faktor penyebab adanya urbanisasi adalah karena adanya faktor utama yang klasik yaitu kemiskinan di daerah pedesaan. Faktor utama ini melahirkan dua faktor penyebab adanya urbanisasi yaitu:

  1. Faktor penarik (pull factors)

Orang desa tertarik ke kota adalah suatu yang lumrah yang sebab-sebabnya bagi individu atau kelompok mungkin berbeda satu sama lain dilihat dari kepentingan individu tadi. Beberapa alasan yang menarik mereka pindah ke kota diantaranya adalah:

  • Melanjutkan sekolah, karena di desa tidak ada fasilitasnya atau mutu kurang
  • Pengaruh cerita orang, bahwa hidup di kota gampang cari pekerjaan, atau mudahnya membuka usaha kecil-kecilan (Rayuan teman)
  • Tingkat upah di kota yang lebih tinggi
  • Keamanan di kota lebih terjamin
  • Hiburan lebih banyak
  • Kebebasan pribadi lebih luas
  • Adat atau agama lebih longgar
  1. Faktor pendorong (Push factors)

Di sisi lain kota mempunyai daya tarik, di pihak lain keadaan tingkat hidup di desa umumnya mempercepat proses urbanisasi tersebut, hal ini menjadi faktor pendorong tumbulnya urbanisasi. Faktor pendorong yang dimaksud diantaranya adalah:

  • keadaan desa yang umumnya mempunyai kehidupan yang statis
  • keadaan kemiskinan desa yang seakan-akan abadi
  • lapangan kerja yang hampir tidak ada
  • pendapatan yang rendah
  • keamanan yang kurang
  • adat istiadat yang ketat
  • kurang fasilitas pendidikan

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa faktor utama penyebab timbulnya urbanisasi yang paling kuat adalah faktor ekonomi (menjadi motif utama para migran), selain itu disusul dengan faktor tingkat pendidikan.

2.2  Korelasi antara Urbanisasi dan Kemiskinan

Tidak bisa dipungkiri, dampak dari globalisasi memang menuntut masyarakat dunia untuk bisa seragam, bisa hidup tanpa adanya batas-batas jarak ataupun wilayah dimanapun manusia itu tinggal, sehingga memang sebetulnya disatu sisi, Urbanisasi memang menimbulkan dampak yang positif terutama untuk kehidupan di perdesaan. diantaranya,

  1. Memoderenisasikan warga desa
  2. Menambah pengetahuan warga desa
  3. Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
  4. Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa

Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah kecenderungan yang terjadi terutama bagi masyarakat desa yang berangkat ke kota dengan tujuan ekonomi hanya bermodalkan kepada kenekatan semata tanpa adanya keterampilan serta tingkat pendidikan yang mumpuni untuk mengikuti persaingan di kota yang begitu ketat.

Mereka berangkat secara berbondong-bondong ke kota dengan sejumlah mimpi serta bujuk rayu teman yang telah berhasil sebelumnya. Dalam alam bawah sadar mereka, mereka berharap kepada “impian” yang mereka tanam di perkotaan.

Pada kenyataannya, mereka harus bersaing dengan ketat di daerah perkotaan. Sehingga tanpa keahilan serta pendidikan yang tinggi membuat sebahagian dari mereka yang memiliki modal-modal pas-pasan beralih ke sector informal seperti halnya menjadi pedagang asongan, berjualan baso dan sebagainya. Akan tetapi sebagian lagi jatuh ke dalam perangkap kemiskinan, menjadi masyarakat kota pinggiran tanpa memiliki pekerjaan dan hidup sebagai pengangguran sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut mereka beralih ke persimpangan-persimpangan perkotaan, ada yang menjadi gelandangan, ada yang menjadi pengamen hingga Bahkan di satu sisi hal tersebutpun mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya melalui jalan-jalan yang keliru, seperti halnya melalui tindakan kriminalitas.

Inilah yang pada akhirnya menciptakan golongan masyarakat miskin yang tinggal disanapun enggan kembali ke desa karena sudah merasa nyaman dengan keadaan tersebut dan juga kemiskinan perkotaan tersebut juga semakin hari semakin meningkat akibat semakin banyak pula mereka yang datang ke kota dan berkahir di persimpangan jalan-jalan di kota pula.

Selain daripada membentuk masyarakat miskin tersebut juga, urbanisasi nampaknya mengakibatkan pula kompetisi dalam penggunaan lahan. Banyak sekali terutama di kota-kota besar seperti halnya di Jakarta dalam penggunaan lahan. Banyak pemukiman-pemukinan kumuh milik masyarakat miskin di daerah-daerah yang seharusnya tidak dijadikan tempat tinggal seperti halnya kolong jembatan, pinggir rel kerta api. Selain memang bukan peruntukkannya, hal tersebut juga merusak lingkungan visual suatu kota, menghambat pembangunan atau acapkali menjadi sarang/wabah penyakit akibat sanitasi yang tidak baik.

2.3  Pembangunan Pedesaan

Semakin meningkatnya arus urbanisasi dari desa ke kota sebenarnya mengindasikan pada lemahnya pembangunan ekonomi di daerah-daerah terpencil ataupun pedesaan, sehingga arus ekonomi hanya terjadi di daerah perkotaan.

Dalam hal ini tentu saja masyarakat dan Pemerintah, baik pemerintah kota, daerah hingga pusat perlu memiliki perhatian khusus serta berkomitmen melakukan pembangunan hampir di semua sektor pedesaan, seperti industri dan jasa. Ada banyak potensi dari setiap daerah pelosok di Indonesia sebenarnya, baik berupa industri maupun jasa yang sebetulnya hanya memerlukan pada pengembangan serta perhatian khusus dari pemerintah, baik itu berupa modal yang memudahkan masyarakat kecil maupun pemberian keterampilan sehingga hasil dari produksi jasa maupun industry mereka bisa dijual dengan harga yang tinggi atau mungkin distribusi produk mereka yang bisa mendunia atas berbagai hubungan Negara kita dengan Negara lain.

Selain itu, pemerintah juga perlu menata reforma agraria, memberdayakan masyakarakat pedesaan dan membangun infrastruktur pedesaan yang akan mampu mempermudah proses ekonomi yang terjadi di desa. Bisa kita bayangkan bagaimana desa-desa terutama khususnya desa-desa tertinggal bisa melakukan pembangunan dalam sector ekonomi tanpa adanya pembangunan infrastruktur seperti jalan raya yang representatif untuk terjadinya proses ekonomi.

Selain itupun perlu diperhatikan pula mengembangkan kota-kota kecil di daerah sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan kawasan perkotaan regional ini harus dilakukan secara serius dan menjamin penyerapan urbanisasi lokal. Sehingga mereka tidak perlu berangkat ke Jakarta ataupun Bandung cukup ke daerah perkotaan di daerah mereka saja.

Dengan demikian pengembangan pedesaan bisa kita lakukan sebagai suatu solusi pembangunan masyarakt pedesaan yang benar-benar akan mampu mengurangi jumlah masyarakat desa yang melakukan urbanisasi ke kota.

2.4  Operasi Yustisi Bukan Satu-satunya Solusi

Jika diatas merupakan solusi pembangunan pedesaan yang lebih bersifat persuasif selanjutnya kita perlu membicarakan tindakan yang bersifat reaktif terhadap kenyataan yang saat ini terjadi.

Permasalahan masyarakat miskin perkotaan memerlukan solusi yang bersifat objektif. Kami sepakat bahwa Operasi Yustisi cocok sebagai salah satu solusi terapi kejut atas pembengkakan jumlah penduduk perkotaan, walaupun sebenarnya dalam tataran implementasinya operasi ini tidak berjalan maksimal namun setidaknya mampu mengurangi arus urbanisasi. Operasi yustisi dengan orientasi jangka pendek haruslah dibarengi dengan kebijakan jangka panjang, yakni dengan membangun kesejahteraan di desa-desa miskin.

Operasi atau system semacam ini lebih cocok diterapkan terutama bagi masyarakat pendatang yang menjadi tuna wisma ataupun pengamen dan sebagainya yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau sumber keuangan yang real dengan catatan ketika mereka dikembalikan maka pemkot atau pemda dimana mereka tinggal bisa lebih memberdayakan serta memberikan peluang usaha bagi mereka yang tentu pula memerlukan perhatian dari pemerintah pusat.

Disatu sisipun untuk proses preventif agar mereka tidak kembali ke kota dengan mudahnya maka Pemerintah Indonesia semestinya bisa meniru negara-negara yang padat penduduknya dan banyak urbanisasi, salah satunya Cina. Di Cina, para penduduk yang hendak melakukan urbanisasi harus diregistrasi secara ketat dengan syarat-syarat yang tentunya ketat pula.

Sedangkan masyarakat yang memiliki sumber keuangan dari sektor-sektor informal seperti halnya pedagang tidak dilakukan pendekatan secara represif seperti Operasi Yustisi ataupun penggusuran. Seharunya, Pemerintah daerah ataupun pemerintah kota dan pemerintah pusat memaksimalkan sektor informal tersebut dalam bentuk lokalisasi. Karena sebenarnya disadari atau tidak kuatnya sektor informal akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Sebetulnya sistem semacam itu bisa kita tiru dari Bangkok yang tidak melakukan penggusuran secara represif, melainkan menetapkan lokasi tertentu bagi para pekerja informal seperti PKL. Sehingga seperti yang saat ini kita kenal Bangkok begitu terkenal dengana wisata kuliner di jalan-jalan kota Bangkok.

2.5  Sinergitas antara Pemerintah tingkat kota, Daerah dan Pusat.

Upaya penyelesaian masalah urbanisasi ini akan sulit tercapai tanpa adanya sibergitas antara berbegai tingkat pemerintahan, baik iyu tingkat perkotaan, daerah maupun pusat.

Ketiga elemen ini tentu harus bersama-sama bekerja dan menerapkan berbagai kebijakannya, baik dalam tataran psikologis masyarakat, kehidupan ekonomi juga factor media yang sedikit banyak mampu mengubah paradigma serta pola pikir masyarakat desa, bahwa untuk sejahtera mereka tidak perlu berangkat ke kota.

Dalam tataran pemerintah pusat, pemerintah perlu memutuskan suatu kebijakan terhadap pemekaran di daerah-daerah terutama dalam alokasi dana Negara yang seharusnya berpijak serta berpihak kepada masyarakat.

Di satu sisi Pemerintah daerah perlu juga memberikan perhatiannya serta secara sinergis bekerja sama dengan pemerintah kota terutama dalam pengalokasiaan, karena tentunya pemernitah daerah pasti lebih dahulu mengetahui bagaimana kondisi di daerahnya.

Pemerintah kota, perlu juga memunculkan keunggulan kotanya tersebut dalam produk ekonomi baik itu produksi jasa maupun industry serta jika memungkinkan menjadi hal tersebut menjadi suatu destinasi wisata yang akan banyak menarik wisatawan untuk berkunjung sehingga akan banyak membatu roda perekonomian di kota tersebut.

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas maka penulis menyimpulkan beberapa hal:

  1. Faktor yang mengakibatkan proses urbanisasi terjadi begitu tinggi terbagi kepada dua, yaitu,
  2. Faktor penarik (pull factors)

Orang desa tertarik ke kota adalah suatu yang lumrah yang sebab-sebabnya bagi individu atau kelompok mungkin berbeda satu sama lain dilihat dari kepentingan individu tadi. Beberapa alasan yang menarik mereka pindah ke kota diantaranya adalah:

  • Melanjutkan sekolah, karena di desa tidak ada fasilitasnya atau mutu kurang
  • Pengaruh cerita orang, bahwa hidup di kota gampang cari pekerjaan, atau mudahnya membuka usaha kecil-kecilan (Rayuan teman)
  • Tingkat upah di kota yang lebih tinggi
  • Keamanan di kota lebih terjamin
  • Hiburan lebih banyak
  • Kebebasan pribadi lebih luas
  • Adat atau agama lebih longgar
  1. Faktor pendorong (Push factors)

Di sisi lain kota mempunyai daya tarik, di pihak lain keadaan tingkat hidup di desa umumnya mempercepat proses urbanisasi tersebut, hal ini menjadi faktor pendorong tumbulnya urbanisasi. Faktor pendorong yang dimaksud diantaranya adalah:

  • keadaan desa yang umumnya mempunyai kehidupan yang statis
  • keadaan kemiskinan desa yang seakan-akan abadi
  • lapangan kerja yang hampir tidak ada
  • pendapatan yang rendah
  • keamanan yang kurang
  • adat istiadat yang ketat
  • kurang fasilitas pendidikan
  1. Urbanisasi memiliki korelasi yang erat dengan kemiskinan di perkotaan, hal tersebut diakbatkan oleh karena mereka yang berangkat ke kota kebanyakan berangkat dengan modal nekat dan ada dua factor yang mendasar, mereka berangkat tanpa adanya keterampilan serta tingkat pendidikan yang mumpuni untuk mengikuti persaingan di kota yang begitu ketat.

Pada kenyataannya, mereka harus bersaing dengan ketat di daerah perkotaan. Sehingga tanpa keahilan serta pendidikan yang tinggi membuat sebahagian dari mereka yang memiliki modal-modal pas-pasan beralih ke sector informal seperti halnya menjadi pedagang asongan, berjualan baso dan sebagainya. Akan tetapi sebagian lagi jatuh ke dalam perangkap kemiskinan, menjadi masyarakt kota pinggiran tanpa memiliki pekerjaan dan hidup sebagai pengangguran sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut mereka beralih ke persimpangan-persimpangan perkotaan, ada yang menjadi gelandangan, ada yang menjadi pengamen hingga Bahkan di satu sisi hal tersebutpun mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya melalui jalan-jalan yang keliru, seperti halnya melalui tindakan kriminalitas

  1. Solusi dari permasalahan tersebut adalah,
  • Operasi Yustisi

Walaupun sebenarnya dalam tataran implementasinya operasi ini tidak berjalan maksimal namun setidaknya mampu mengurangi arus urbanisasi. Operasi yustisi dengan orientasi jangka pendek haruslah dibarengi dengan kebijakan jangka panjang, yakni dengan membangun kesejahteraan di desa-desa miskin.

  • Regulasi urbanisasi yang ketat

Pemerintah Indonesia semestinya bisa meniru negara-negara yang padat penduduknya dan banyak urbanisasi, salah satunya Cina. Di Cina, para penduduk yang hendak melakukan urbanisasi harus diregistrasi secara ketat dengan syarat-syarat yang tentunya ketat pula.

  • Pembangunan pedesaan

Pemerintah perlulah memiliki perhatian khusus serta berkomitmen melakukan oembangunan hampir di semua sektor pedesaan, seperti industri dan jasa. Selain itu, pemerintah perlu menata reforma agraria, memberdayakan masyakarakt pedesaan dan membangun infrastruktur pedesaan yang akan mampu mempermudah proses ekonomi yang terjadi di desa.

  • Pengembangan kota-kota kecil di daerah.

Mengembangkan kota-kota kecil di daerah sebagai piusat pertumbuhan ekonomi baru. Pengembangan kawasan perkotaan regional ini harus dilakukan secara serius dan menjamin penyerapan urbanisasi lokal.

  • Kemudahan peminjaman modal

Ini sangat penting terutama untuk pengembangan KUKM di desa-desa. Sehingga usaha yang dijalankan akan berkembang dan mampu membuka lapngan pekerjaan yang baru dan semakin banyak di sekitar lingkungan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Nas, P.J.M. Kota di dunia ketiga : pengantar sosiologi kota terdiri dari tiga bagian. 1984.Jakarta: Bhratar Karya Aksara.

Marbun,BN. Kota Indonesia Masa Depan Masalah dan Prospek.1988. Jakarta: Erlangga

Sumber Website:

.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: