Skip to content

Heroes, Bali dan 12 Oktober 2002

Februari 11, 2012

Hampir mungkin kurang lebih satu tahun saya tidak membeli buku baru, hingga akhirnya saya membeli buku Heroes. yup…
Buku yang diadaptasi dari program talkshow Andy F Noya dalam program Kick Andy! di Metro TV. Andy memang punya kharismatik dan cara yang berbeda dalam mengangkat tema di setiap episodenya. Inspiratif memang dibandingkan dengan program talkshow di televisi lain yang lebih senang mengeksploitasi humor kekerasan (Baca: Program Olga Syahputra).
Pada kisah pertama saya sudah disuguhkan kisah luar biasa tentang kegigihan pak Sidik, seorang penyandang cacat nan berjiwa wirausaha yang tinggi. Inspiratif bagi bangsa Indonesia, orang yang selalu merasa minder dan hanya berdiri atas bantuan orang lain. Hidup bergantung pada pekerjaan pada orang lain dan akhirnya menciptakan budaya ketergantungan.
namun pada bab II saya lebih terguagah dan secara emosional membawa saya mengingatan kembali memori perjalanan saya beberapa waktu yang lalu. Tentang Ground Zero di Bali. Kisah kedua mengisahkan tentang Pak Haji Bambang. yah…
Saya masih ingat betul ketika itu saya masih berumur 10 tahun, mungkin tepat kelas 4 atau 5 SD. Secara serentak televisi di Indonesia pada tengah malam hari memberitakan tentang BOM Bali di kawasan Legian dan saya juga ingat betul sesorang yang ANTV (Salah satu televisi swasta di indonesia), secara live berbincang dengan seseorang bernama Haji Bambang.
siapa yang tidak kenal Bali? daerah yang lebih populer dibandingkan Indonesia, surganya plesiran lokal maupun asing. Bali memang telah jauh hari mengembangkan potensi wisatawanya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sehingga everyday is holiday! dan itulah yang membuat masyarakat Bali bisa menjalankan ekonomi kehidupannya hingga hari ini.
Kembali ke Ground Zero indonesia. tepat ketika 12 oktober 2002 tersebut pada tengah malam dimana saat itu justru keramaian baru dimulai, terjadilah peledakan Bom Bali I menggelegar hingga getarannya bisa dirasakan hingga 12 KM dari lokasi kejadian. Sebuah BOM yang dirakit dan diledakan dari sebuah mobil dan menjadi awal 1 dekade episode terburuk bangsa kita yang diobrak-abrik oleh aksi terorisme.
Yah.. Saya tidak sepakat bahwa peledakan Bom Bali dikatakan sebagai Jihad. Abu bakar Ba’asyir seorang tokoh islam yang sering disebut garis keras dan juga idola bagi sayapun mengatakan itu bukan bom Jihad. Jadi memang perlu dianalisir sebetulnya apa yang menjadi grand desain dari kelompok tersebut. Kalaulah memang mereka berjihad lalu kenapa pada perisitiwa berikutnya mereka membom jalan Kuningan Jakarta, sebuah jalan protokol yang mungkin sayapun bisa ditakdirkan ketika peristiwa untuk berjalan disana dan akhirnya saya harus tewas juga disana saat itu.
entahlah…
Namun memang jika boleh saya menilai. Bahwa nilai timur kita beradu dan bertarung di Bali. Tepat tempat kami menginap adalah dekat dengan monumen legian tersebut. Pada malam hari saya dan teman lainnya menyempatkan diri untuk melihat bagaimana malam meriah itu dimulai. Dan memang benar, nilai timur kita hilang disana. Saya tidak merasa sedang berada di Indonesia. Atau setidaknya sedang berada di belahan timur bumi. Atau bahkan merasa sedang tidak ada di Bali dimana ketika siang hari orangnya ramah-ramah dan begitu religius karena bagi kpercayaan Hindu Bali setiap rumah harus memiliki pura dan saya melihat itu sepanjang jalan dan di sepanjang jalanpun banyak sekali seserahan dan itu menjadi indikasi mereka adalah masyarakat hindu yang taat.
Tapi malam itu nampaknya Bir, Prostitusi, dan narkoba nampaknya menjadikan Bali sebagainya surganya. Ketika esok pagi kami keluar dari penginapan daerah legian menjadi kembali normal. Bahkan saya melihat banyak orang yang sedang membersihkan bar-bar yang semalam menghentakan musik dengan keras itu.
Kembali berjalan untuk melanjutkan tur. Kami diajak untuk mengunjungi sebuah kawasan elit real estate miliki Tomy Soeharto. Saya bar tahu bahwa dulu dia bercita-cita untuk membuat pusat perjuadian asia. Ah bagi saya -2 untuk Bali. Entahlah mungkin nilai yang kita anut disini memang berbeda dengan disana karena terjadinya percampuran nilai tumru dan Barat tadi sebelumnya.  Belum lagi Pulau Dream land yang “tanpa aturan”. Siapapun yang kesana boleh melakukan apapun dan terlepad dari aturan yang berlalu di negara kita, jadi Go A Head.
AMAZING memang…
Tapi masih ada nilai positif yang bisa kita ambil, bali adalah daerah seni yang tinggi. Menjadi salah satu kebanggan juga bagi kita Bangsa Indonesia.
Mudah-mudahan Bali masih bisa memancarkan wisatanya tanpa kehilangan nilai ketimurannya.
“Terima Kasih Baliku, untuk Budaya dan Alammu”  ~Slank

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: