Skip to content

Islam, Indonesia dan Kearifan Budaya Lokal

Mei 4, 2012

ABSTRAK

 Definisi Kearifan Lokal secara leksikal  berasal dari dua kata, yang pertama arif yang dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti bijaksana, cerdik dan pandai dan lokal yang memiliki arti setempat. Sedangkan Secara Istilah definisi Kearifan Lokal adalah kebiasaan suatu komunitas social yang dibuat sebagai tata nilai, sumber moral, yang dihargai oleh komunitas mereka (Prof. Abdul Majid,2011)

Indonesia merupakan bangsa yang besar dan terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa dan ras. Setiap suku bangsa Indonesia memiliki sistem nilai serta kearifan local yang beragam. Di satu sisi Indonesia sendiri  juga merupakan salah satu bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia., hampir 85% penduduknya memeluk agama Islam.

Secara historis Islam yang masuk ke Indonesia telah banyak berstagnasi dengan kebudayaan lokal masyarakat Indonesia. Pembauran nilai tersebut terjadi tanpa adanya suatu pertentangan dan penolakan dari masyarakat setempat.

Dewasa kini masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia harus berhadap dengan era globalisasi. Dipungkiri atau tidak, globalisasi memiliki peranan besar dan tantangannya adalah bagaimana kearifan budaya local tersebut bisa memfilterisasi segala bentuk negative dari globalisasi tersebut.

 

                        Kata kunci       : Kearifan budaya lokal, Islam, Indonesia, globalisasi

A.    Kearifan Budaya Lokal dan tantangan Globalisasi

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily,  local berarti setempat, sedangkan  wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka  local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Sedangkan pengertian kearifan local secara istilah menurut Prof. Abdul Majid adalah kebiasaan suatu komunitas social yang dibuat sebagi tata nilai, sumber moral yang dihargai oleh mereka.

Dari definisi diatas setidaknya muncul dua pertanyaan besar, yaitu (1) apakah kearifan local ini dapat dipelihara dan mampu memfilter budaya-budaya yang datang dari luar? sedangkan disatu sisi dalam era globalisasi seperti saat ini, masyarakat dunia bisa dikatakan hampir sulit untuk menghindari pengaruh yang luar biasa dari efek globalisasi tersebut.(2) mengapa kita perlu mempelihara kearifan budaya lokal tersebut?

Kearifan budaya lokal atau dalam bahasa asing disebut dengan local wisdom juga bisa disebut sebagai local genius. Dalam disiplin antropologi Local genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quaritch Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian  local genius ini (Ayatrohaedi, 1986). Antara lain Haryati Soebadio mengatakan bahwa  local genius adalah juga  cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing  sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986). Sementara Moendardjito (Ayatrohaedi, 1986) mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai  local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Ciri-cirinya adalah:

  1. mampu bertahan terhadap budaya luar
  2. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar
  3. mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli
  4. mempunyai kemampuan mengendalikan
  5. mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

Bahkan lebih mendalam I Ketut Gobyah dalam “Berpijak pada Kearifan Lokal” mengatakan bahwa kearifan lokal (local genius) adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

Namun disatu sisi tantangan besar yang terjadi hari ini sering kita temui dalam mempertahankan kearifan budaya lokal tersebut adalah rayuan dari globalisasi. Ada kecenderungan yang menjadi suatu ambisi terutama bagi banyak orang di dunia terutama di Indonesia saat ini adalah mereka selalu menganggap bahwa budaya yang datang dari luar dianggap lebih baik daripada budaya yang kita miliki. Sehingga timbul satu asumsi bahwa budaya lokal nusantara kita sedang kalah saing dam tidak kuat bergumul dengan budaya internasional. Bukan budayanya yang melemah, melainkan manusianya, oleh karena,

  1. Tidak kuat terhadap kepercayaan dirinya
  2. Malas berkreasi
  3. Merasa minder kalau tidak segera mengikuti zaman
  4. Dianggapnya zaman yang bagus bila meniggalkan kebiasaan lamanya dan menerima apa yang dianggap asing baginya
  5. Budaya asing itu terasa lebih unggul dari apa yang selama ini terjadi dalam hidup keseharian (Prof. Abdul Majid,2011).

Maka bisa kita temukan dengan mudah bagaimana spaceboard komersial misalnya yang terlatak di sepanjang jalan Setiabudhi, Bandung saja kebanyakan berbahasa asing atau inggris. Padahal mayoritas orang yang melintas dan bermukim di daerah tersebut adalah masyarakat sekitar dan mungkin masyarakat lembang yang notabenya mayoritas bekerja sebagai seorang petani, pekerja kebun dan sebagainya.

Budaya lokal yang telah tumbuh dan mengakar dalam kehidupan kita bermasyarakat merupakan salah satu kekayaan yang tidak bisa diukur berapa nilanya. Segala hal yang berasl dari luar, secara arif budaya mereka kita tempatkan sebagai stimulus, pemicu dan pemacu dalam berbagai macam hajat kehidupan kita sehingga bisa bersaing dan maju bersama mereka di Negara masing-masing (Prof. Abdul Majid: 2011)

Intinya adalah bagaimana kita bisa berperilaku secara global namun tetap berpijak pada nilai-nilai lokal “Think Locally and Act Globally”. Oleh karena itu kita perlu merekonstruksi kembali paradigma masyarakat saat ini sehingga mereka di satu sisi masih dapat mempertahankan kearifan budaya lokalnya dan di sisi yang lain mereka juga mampu bersaing secara global.

B.     Sejarah islam masuk ke Indonesia

Ada Beberapa Pendapat tentang awal masuknya Islam di Indonesia menurut beberapa ahli sejarahwan. Diantaranya sebagai berikut:

  1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
    1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
    2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
    3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
    4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
    5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
    6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
    7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
    8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
    9. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)

  1. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
    1. Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292
    2. M.K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
    3. J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
    4. Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

Sebelum pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya andil melancarkan perkembangan islam di kawasan Indonesia.

Dalam proses awal penyebaran Islam di Indonesia ada beberapa cari diantaranya,

  1. Perdagangan dan Perkawinan

Dengan menunggu angina muson (6 bulan), pedagang mengadakan perkawinan dengan penduduk asli. Dari perkawinan itulah terjadi interaksi social yang menghantarkan Islam berkembang (masyarakat Islam).

  1. Pembentukan masyarakat Islam dari tingkat ‘bawah’ dari rakyat lapisan bawah, kemudian berpengaruh ke kaum birokrat (J.C. Van Leur).
  2. Gerakan Dakwah, melalui dua jalur yaitau:
    1. Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambing-lambang budaya).
    2. Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.

Dari ketiga model perkembangan Islam itu, secara relitas Islam sangat diminati dan cepat berkembang di Indonesia. Meskipun demikian, intensitas pemahaman dan aktualisasi keberagman islam bervariasi menurut kemampuan masyarakat dalam mencernanya.

Ditemukan dalam sejarah, bahwa komunitas pesantrean lebih intens keberagamannya, dan memiliki hubungan komunikasi “ukhuwah” (persaudaraan/ikatan darah dan agama) yang kuat. Proses terjadinya hubungan “ukhuwah” itu menunjukkan bahwa dunia pesantren memiliki komunikasi dan kemudian menjadi tulang punggung dalam melawan colonial.

C.    Islam dan kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia

Di kalangan antropolog ada tiga pola yang  dianggap paling penting berkaitan dengan masalah perubahan kebudayaan:  evolusi, difusi, dan  akulturasi. Landasan dari semua ini adalah penemuan atau inovasi. (Lauer, 1993:387).   Dalam perjalanannya, budaya Nusantara, baik yang masuk kawasan istana  atau di luar istana, tidak statis. Ia bergerak sesuai dengan perkembangan jaman. Dengan adanya kontak budaya, difusi, assimilasi, akulturasi sebagaimana dikatakan sebelumnya, nampak bahwa perubahan budaya di masyarakat akan cukup signifikan (Sartini, 2003). Termasuk pada akhirnya Islam yang masuk ke Indonesia telah mengalami akulturasi dengan budaya-budaya masyarakat lokal setempat di bumi Nusantara.

Sejarah Islam di Indonesia sangatlah kompleks dan mencerminkan keanekaragaman dan kesempurnaan tersebut kedalam kultur, bahkan islam yang masuk ke Indonesia sejak abad 7 telah banyak sekali mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut Kuntowijoyo, dalam bukunya yang berjudul Paradigma Islam, Islam yang masuk ke Indonesia telah mengalami agrarisasi. Peradaban Islam yang bersifat terbuka, global, kosmopolit dan merupakan mata-rantai penting  peradaban dunia telah mengalami penyempitan dan stagnasi dalam bentuk budaya-budaya lokal.

Islam yang masuk ke Indonesia mampu masuk ke dalam masyarakat Indonesia tanpa terjadinya konflik dan pertentangan. Sebaliknya justru Islam seperti apa yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo diatas telah mampu berstagnasi dalam bentuk budaya-budaya lokal, sehingga proses internalisasi akulturasi begitu kental melekat dalam budaya-budaya lokal masyarakat Indonesia, seperti halnya penamaan istilah contohnya Markas dan Dewan yang merupakan bahasa serapan dari bahasa arab.

Selain dari hal kultur yang bersifat real, seperti bangunan masjid dan penamaan ada pengaruh lain yang justru lebih besar, yaitu bagimana sistem nilai dan norma yang merupakan kearifan budaya lokal tersebut berlaku di kebanyakan suku di Indonesia banyak yang bercampur dengan ajaran islam. Seperti di daerah suku Minang, dalam sistem sosial yang diterapkan dalam masyarakat tersebut mereka mengagungkan peranan seorang perempuan/ibu, hal tersebut sama dengan hadist nabi Muhammad SAW yang mengatakan ibu sebanyak tiga kali di dalam hadistnya baru kemudian ayah.

Dalam praktisnya kita bisa lebih secara mendalam lagi memaknai pengaruh-pengaruh islam ini dari sudut pandang nilai-nilai yang terkandung di dalam islam dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya setempat. Mengapa demikian? Ini tidak lain karena Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamien memiliki peranan yang penting di dalam kehidupan umat manusia. Nilai-nilai universal yang terkandung di dalam islam perlu direpresentasikan dalam kehidupan berbudaya masyarakat.

Penelitian yang telah dilakukan Khalil Abdul Karim (2003), seorang pemikir asal Mesir, menunjukan dengan baik bagaimana Islam mengakomodir budaya lokal untuk kemudian dijadikan sebagai bagian dari doktrin keagamaan. Jauh sebelumnya Hasanuddin Hashmi (1989) juga telah melakukan penelitian yang sama meskipun lebih fokus pada masalah-masalah hukum. Dari kedua penelitian itu dapat disimpulkan bahwa al-Qur‟an maupun ijtihad Nabi Muhammad saw. tidak menghapus semua budaya yang telah mengakar dalam prikehidupan. Yang dilakukan justru melakukan akulturasi dan inkulturasi dengan budaya setempat yang lebih memungkinkan adanya penerimaan masyarakat secara inklusif terhadap Islam. Hal inilah yang kemudian mengilhami sejumlah penyebar agama Islam sesudah masa Nabi.

Namun saat ini ada kecenderungan yang menjadi suatu potensi yang sangat berbahaya bagi persatuan bangsa Indonesia hari ini yaitu, konflik berbau SARA. Sehingga diharapkan ketika masyarakat dengan kearifan budaya setempatnya masing-masing mampu mebaurkannya dengan ajaran-ajaran islam maka diharapkan akan tercipta masyarakat yang madani.

Di satu sisi peran yang begitu besar dari peradaban islam juga telah jauh-jauh hari di antispasi oleh bangsa barat. Seperti dikutip dari perkataan Clinton Presiden Amerika Serikat ke-42, ia mengatakan bahwa  “Masa depan dunia kemungkinan besar islam yang akan banyak berperan”. Sehingga diindikasikan ada suatu upaya yang dilancarkan oleh bangsa-bangsa barat untuk menghalangi hegemoni islam tersebut dengan diantaranya melalui pembentukan masyarakat Homogen dalam bentuk globalisasi tersebut.

Sehingga globalisasi pada akhirnya bukan hanya tantangan bagi kearifan budaya lokal semata akan tetapi juga merupakan tantangan bagi umat Islam dalam mempertahankan ajaran murni dari Allah SWT tersebut.

D.    Identifikasi Masalah

Ada 3 point masalah yang harus diidentifikasi jika kita akan membahas terkait kearifan budaya lokal dan islam serta eksistensinya dalam era globalisasi.

Pertama,Apakah kearifan lokal ini dapat dipelihara dan mampu menfilter budaya-budaya yang datang dari luar? Di era globalisasi seperti saat ini, perubahan merupakan suatu kedigdayaan untuk dihindari. Melihat bagaimana pengeruh media yang saat ini sangat mudah untuk di akses. Pengaruh dari luarpun begitu mudah masuk ke dalam pola pikir masyarakat dunia. Tantangan besar bagi masyarakat lokal untuk bisa senantiasa memlihara kearifan budaya lokal yang selama ini mereka anut dan dengan kearifan budaya lokal tersebut juga mereka harus mampu menfilter berbagai budaya yang datang dari luar.Apakah itu sesuai dengan system nilai yang kita anut?atau malah justru bertentangan dengan budaya kita saat ini? 

Kedua, Mengapa kita perlu memelihara kearifan budaya lokal tersebut? Kearifan budaya lokal bisa juga disebut sebagai cultural identity atau dengan kata lain identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing  sesuai watak dan kemampuan sendiri. Kebudayaan lokal tersebut telah muncul dan diterapkan di dalam masyarakat sebagai suatu system nilai yang dihargai oleh mereka sendiri. Sehingga ada suatu ke khasan serta system yang bisa menjadi identitas kultur kita. Dan walaupun demikian kita tidak menutup diri terhadap dunia global saat ini, kita masih menyerap dan mengolah kebudayaan asing namun dengan karakteristik serta watak yang sesuai dengan budaya kita sendiri.

Ketiga, Bagaimana menurunkan ajaran islam dengan budaya setempat?

I ketut Gobyah mengatakan Kearifan lokal merupakan perpaduan antara nilai-nilai suci firman Tuhan dan berbagai nilai yang ada. Islam yang memiliki peranan penting dalam kehidupan umat manusia memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Islam juga yang telah mampu berstagnasi dengan kebudayaan lokal masyarakat Indonesia memiliki peranan penting dalam memperkaya nilai-nilai yang telah ada di dalam masyarakat Indonesia. Sehingga tinggal bagimana praktek ajaran islam tersebut bisa direpresntasikan dalam kehidupan berbudaya masyarakat Indonesia.

E.     Saran dan Bahan Diskusi

Jika kita pelajari, kearifan budaya lokal yang telah diperkaya oleh ajaran islam di Indonesia seharusnya mampu menghilangkan segala bentuk konflik berbau SARA di Indonesia saat ini. Ada indikasi keterlibatan beberapa pihak yang justru seolah dengan sengaja memperkelahikan bangsa Indonesia saat ini.

Sehingga perlulah kita kembali merefleksikan diri kita dan kembali ke Al-Qur’an dan Al-hadist. Sudahkah hidup berbudaya kita ini sesuai dengan apa yang telah dinisbatkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist tersebut atau justru semakin jauh dan masuk ke dalam perangkap globalisasi.

Sebagai bahan diskusi agar semakin memperkaya hasil analisa yang kami simpulkan ini maka kami kemukakan beberapa hal:

1.      Untuk senantiasa mempertahankan kearifan budaya lokal tersebut maka perlulah perhatian khusus terutama bagi tokoh-tokoh elit di daerah tersebut,. Hal terkecil bisa dilakukan oleh peranan orang tua terhadap anaknya. Mereka semua memiliki kewajiban untuk senantiasa membina serta melestarikan kearifan lokal tersebut secara bersama dan sinergis.

2.      Selain dari perananan diatas juga salah satunya melaui proses pendidikan. Pendidikan merupakan factor yang turun memperkaya khazanah budaya kita. Segala hal yang berasal dan kita peroleh dari luar, secara arif budaya mereka kita tempatkan sebagai stimulus, pemicu dan pemacu dalam kehidupan global saat ini (Prof. Abdul Majdi: 2011)

3.      Islam sebagai solusi budaya internasional. Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas  warga Negara Indonesia, hampir 85% bangsa Indonesia memluk agam Islam. Maka pada tempatnyalah islam yang diperuntukkanya secara universal bagi umat manusia dijadikan solusi bagi peraturan budaya antaretnik dan antarnegara di dunia dalam upaya membentuk peradaban dunia yang salam (damai) (prof. Abdul Majdi: 2011)

Dengan demikian diharapkan masyarakat Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa serta kearifan lokal masing-masing dapat tetap dipertahankan dari pengaruh-pengaruh globalisasi dan di satu sispula islam mampu hadir sebagai solusi dari berbagai ancaman konflik atas segala bentuk perbedaan keragaman suku budaya tersebut. Wallahu ‘alam bi shawab

Daftar Pustaka

 

Majid,Abdul.2011. Pendidikan Berbasis Ketuhanan. Bandung: Cv. Maulana Media Grafika

Kuntowijoyo. 2008. Paradigma Islam:interprestasi untuk aksi. Jakarta: PT.Mizan

Sartini. 2004. Menggali Kearifan dan lokal nusantara sebuah kajian filsafati. Yogyakarta: Jurnal Filsafat, Agustus 2004, Jilid 37 Nomor 2 Fakultas Filsafat UGM.

Ayatrohaedi, 1986,  Kepribadian Budaya Bangsa (local Genius), Pustaka Jaya, Jakarta.

http://sejarawan.wordpress.com/2008/01/21/proses-masuknya-islam-di-indonesia-nusantara/ (diakses pada tanggal 14 Desember 2011)

2 Komentar leave one →
  1. 262 permalink
    September 26, 2012 8:21 am

    eheheh di balik kemepetan akhir.na ada pencerahan bentuk makalah SPAI … makasih kang eheheheh😀

    • Kumis Pintar permalink*
      Maret 25, 2013 7:33 pm

      Wahahah. Dicopy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: